Gagas Alam Semesta – Ida Bagus Giri Suprayatna

Sebagai mahasiswa lulusan arsitektur Institut Teknologi 10 November di Surabaya, Ida Bagus Giri Suprayatna mempunyai konsep dan cara berbeda dalam mengembangkan ilmu dan potensi yang dimilikinya. Ia adalah CEO dari PT GAGAS SEMESTA ALAM (GSA) yang mengilustrasikan bahwa Kecerdasan adalah matahari sehingga harus terus berkembang selama belum berhenti bersinar. Dengan pendekatannya yang berbeda, ia menyampaikan metodenya dalam berbisnis yakni ARCHIPRENEUR; Pengusaha yang berbasis Seni.

Berbekal 15 tahun pengalamannya di jasa perencanaan dan pembangunan akomodasi wisata, maka pada tahun 2009, Gus Giri, demikian sapaan setiap orang memanggilnya, mengantarkannya menjadi pemilik property dengan mendirikan PT. MAHAGIRI. Di awal bertemu ia menuturkan bahwa Pariwisata Bali adalah interpretasi antara “Leisure and Culture”, sehingga ketika pertama kali “Mahagiri Villas Sanur” digagasnya, maka pembangunan Boutique villas resort ini sangat lekat dengan konsep “Heritage and Harmony”. Ini menjadikan property tersebut begitu membumi, diminati oleh banyak wisatawan asing untuk tujuan berlibur, hingga pada tahun 2015 “Mahagiri Villas Sanur” dianugrahi “World Luxury Hotel Award” di Hongkong, China.

Kesuksesan tersebut tidak lantas membuatnya bangga dan bertepuk dada dengan apa yang ia capai. Berbagai ide dan konsep terus dikembangkannya hingga terwujud beberapa property lainnya adalah “Mahagiri Resort Dreamland” di kawasan Pecatu, Bali dan “Mahagiri Resort Nusa Lembongan” yang terletak di kawasan Pantai Desa Jungutbatu, Nusa Lembongan, Bali. Pada saat ini ia sedang mempersiapkan property selanjutnya yakni “Mahagiri Villas Tanah Lot” dan “Mahagiri Resort Ubud” yang dalam proses aktualisasi di tahun ini. Dengan landasan idealisme dan rasa syukur atas apa yang ia miliki sekarang, baginya, mengembangkan usaha dan bisnis harusnya dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Sejalan dengan apa yang merupakan idealisme tersebut, Gus Giri bersama “Swastika Bali” (Ikatan Alumni Mahasiswa Bali di Surabaya) yang merupakan sebuah organisasi nirlaba (“Ngayah Menuju Bali Shanti”); turut serta menggagas tentang rancangan pengembangan Desa Wisata berbasis Akomodasi di Desa Gunung Salak Tabanan, Bali dengan luas wilayah: 1.000 hektar. Pemaparan rencana desa wisata tersebut disampaikannya pada forum audensi dan simakrama bersama Gubernur Bali pada bulan September 2016 lalu. Hal ini dianggap penting untuk dilakukan, agar kedepannya desa di Bali mampu merevitalisasi perekonomiannya di tengah perkembangan jaman yang begitu cepat dengan menggunakan pariwisata sebagai “local economic resourced development”. Namun demikian penerapan konsep desa wisata bukanlah sesuatu yang mudah, demikian disampaikan Gus Giri.

Pemikiran lain yang saat ini juga sedang ia gagas adalah mulai dikemukakannya Pembangunan Kepariwisataan Nusatara melalui konsep Gerbang Wisata Nusantara atau “Destination Promotion Center for Nusantara” di Bali. Bali harusnya bisa menjadi “sister tourism development” bagi daerah lain untuk mempromosikan seluruh potensinya menjadi lebih efektif dan efisien. Untuk itu, jika terwujud Gerbang Wisata Nusantara di Bali maka sesungguhnya pariwisata nusantara akan memiliki koneksitas yang kuat satu dengan yang lainnya, baik dalam berpromosi, menciptakan brand positioning daerah yang ideal, merancang bersama produk pariwisata daerah agar berdaya saing serta yang paling penting adalah setiap daerah memiliki tempat yang representatif untuk memperkenalkan budaya dan potensinya di Bali. Ia menyampaikan bahwa sudah saatnya setiap daerah dibantu dan difasilitasi untuk mendapatkan tempat seluas 3.000 s/d 5.000 m2 di Bali dan bersatu dalam sebuah wadah yang disebut Gerbang Wisata Nusantara. Menurut Gus Giri, seharusnya wisatawan mancanegara tidak terhenti hanya di pulau dewata namun dapat lebih melihat nusantara melalui Bali. Ia mengilustrasikan bahwa rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara adalah kurang lebih 2 (dua) minggu, sehingga ini saatnya untuk berbagi kue pariwisata kepada daerah yang telah siap dan memiliki tujuan yang sama. Ia menyadari bahwa permasalahan transportasi akan menjadi kendala utama, namun jika pemerintah bersama swasta mampu menciptakan DDF (Destination Direct Flight) maka tujuan tersebut niscaya akan terlaksana guna mendukung Pembangunan Kepariwisataan Nasional.

Seiring dengan idealismenya di bidang Pariwisata tersebut, nampaknya tidak menyurutkan langkah Gus Giri untuk berkarya di bidang yang lain. Terlihat Ia pun menaruh hati dan bersimpati atas situasi dan kondisi pertanian di Indonesia. Sejak tahun 2012, ia mempersiapkan sebuah imput produksi pertanian yang ramah lingkungan dan kini telah bersertifikasi SNI ORGANIK INDONESIA. Hal tersebut diwujudkannya dalam bentuk pembuatan pupuk hayati cair (Liquid Biofertilizer) yang dikenal dengan nama “BIOLOVE”, yang merupakan produksi “PT BIO AGRO LESTARI INDONESIA” miliknya. Satu hal yang cukup menarik dilakukannya adalah membuat produk pupuk hayati cair dari bahan baku yang “sustainable” yakni dari Tanaman Aloevera yang seluruhnya ditanam di lahan-lahan marginal dengan perlakuan organik. BIOLOVE tidak saja merupakan “Biofertilizer”, namun juga berfungsi sebagai “Decomposer” dan telah melalui proses pengujian efektifitas oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) serta telah mendapat ijin edar dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Kehadiran BIOLOVE tidak saja ia peruntukkan untuk mendukung sektor pertanian ramah lingkungan yang menuju organik, namun juga untuk mendukung Industri Pariwisata yang berorientasi pada penciptaan lingkungan hijau dengan mulai mereduksi penggunaan bahan kimia (GO GREEN). Pada saat ini BIOLOVE telah banyak diaplikasikan di resort-resort yang peduli lingkungan dan lapangan golf di wilayah Bali dan Jakarta.

Menurutnya saatnya kita turut serta berkontribusi memajukan sektor pertanian demi membantu terwujudnya kembali kedaulatan pangan di Indonesia. Kegiatan ini adalah sebuah upaya untuk dapat memberikan manfaat bagi sesama, dari seni membangun menjadi seni bercocok tanam, imbuhnya. Semoga pertanian Indonesia diperlakukan lebih arif dimasa depan untuk menjadi kegiatan berekonomi yang lebih sehat yang berdampak luas / “community impact”. Dari Petani Aloevera Bali untuk Pertanian Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *